VERTICAL GARDEN PATRICK BLANC SOLUSI RTH JAKARTA

Kebutuhan ruang terbuka hijau (RTH) tidak hanya diperuntukkan sebagai fungsi keindahan. RTH juga dapat berfungsi sebagai tempat edukasi, ekologis dan fungsi evakuasi jika ada bencana. Sayang, DKI Jakarta masih kekurangan sekitar 20 persen RTH.

Hal itu ditegaskan pengamat perkotaan Nirwono Joga. Dia mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menga­dakan taman atau RTH yang juga memiliki fungsi lainnya.
Menurutnya, terdapat delapan unsur agar RTH sesuai fungsi-fungsi tersebut. Yakni, unsur pe­rencanaan dan desain hijau, RTH, transportasi hijau, bangu­nan hi­jau, pengairan hijau, ada­nya pe­ngolahan sampah, hemat energi, dan komunitas hijau.
Konsep tersebut sudah sering ditawarkan kepada pemerintah kota, tak hanya di Jakarta, tapi di kota-kota lain di Indonesia.
“Na­mun rata-rata mereka tidak mau berkomitmen melakukan delapan unsur itu secara keselu­ruhan,” sesal Nirwono.
Dia mengungkapkan, di wila­yah Jakarta saat ini keberadaan RTH baru terpenuhi 10 hingga 13 persen dari total luas wilayah Ja­karta. Padahal, lanjutnya, jika sesuai Undang-undang Nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang, luas RTH harus mencapai 30 persen dari total luas kota.
“Jumlah itu jauh dari seha­rusnya. Tidak heran ka­lau kota-kota di Indonesia banyak yang banjir dan polusi udaranya me­ning­kat,” ujar Nirwono.

Pengamat perkotaan lainnya, Yayat Supriatna mengatakan, ke­butuhan RTH di kota-kota be­sar sudah sangat mendesak. Dia men­contohkan, minimnya RTH akan menimbulkan bencana.
“Paling kecil bencana­nya sudah pasti banjir, karena ruang serap air sudah berkurang,” katanya.
Terlepas dari semua jenis mu­sibah banjir, satu hal yang men­jadi catatan penting untuk men­jadi perhatian, menurut Yayat ada­lah, daya dukung lingkung­an di perkotaan saat ini sudah me­lewati ambang batas. Hampir se­mua sumber daya hijau kota su­dah tergerus.
Dari hasil eva­luasi lima ta­hunan terhadap ren­cana kota 2010, da­lam waktu hampir lima tahun (2000-2004) Jakarta sudah kehilangan sekitar 450 hektare RTH. Jika ditotal dengan bentuk pelanggaran koe­fisiensi dasar bangunan (KDB) di daerah re­sa­pan air, total hilangnya men­capai 4.000 hektare.
“Di wilayah hulunya Sungai Cili­wung, sejak 1972 hingga 2005 telah terjadi alih fungsi la­han. Kita kehilangan 30,3 per­sen areal ve­getasi hutan dan ke­hi­langan 11,9 persen areal ve­getasi kebun cam­puran. Aki­bat­nya, hampir 5.000 mm per tahun air hujan me­lim­pah masuk ke sungai dan akhirnya meng­ge­nangi Ja­karta dan sekitar­nya,” jelas Yayat.
Ketidakmampuan Sungai Ci­liwung menampung limpahan air disebabkan terjadinya ba­nyak penyempitan lebar sungai dari 65 meter tinggal 15 hingga 20 meter. Sedangkan tingkat ke­dalamannya hanya berkisar 1 hingga 2 meter, dari kedalam­an normal yang seharusnya men­capai 5 meter.
“Bencana banjir yang selalu mengancam ibukota mem­­bukti­kan kalau pemerintah gagal mem­pertahankan kondisi ling­­kungan. Lanskap kota atau wila­yah telah berubah secara me­rata di seluruh wilayah Jabo­deta­bek,” urai Yayat.

Vertical Garden Patrick Blanc Solusi RTH Jakarta

Secara harfiah taman vertikal adalah taman yang dibangun secara tegak lurus atau vertikal (90o), dan pada umumnya menempel di dinding. Di dunia internasional taman vertikal memiliki banyak sebutan, diantaranya: vertical garden, vertical landscape, greenwall, living wall dan lain sebagainya.

Terdapat 2 jenis taman vertikal yaitu green façades dan living wallsGreen Facades merupakan dinding yang ditumbuhi dengan tanaman yang merambat yang langsung tumbuh di dinding, sedangkan Living Wall (Patrick Blanc) merupakan dinding yang diberi media tanam untuk tanaman. Jenis ini biasanya terdiri dari rangka (frame), pvc foam board, felt, sistim irigasi/penyiraman dan pemupukan otomatis, dan tanaman itu sendiri. Sistem vertical garden Patrick Blanc ini memiliki kelebihan antara lain bisa diterapkan pada gedung-gedung bertingkat hingga puluhan lantai, tanpa kekhawatiran roboh karena menggunakan rangka yang menempel di gedung seperti pemasangan kaca.

Taman vertikal dapat  membantu menyelesaikan masalah penghijauan pada area yang memiliki lahan/bidang horizontal yang luasnya terbatas. Beberapa manfaat Vertical Garden antara lain:

  • Menambah keindahan alami lingkungan
  • Menciptakan taman cantik di lahan terbatas
  • Menahan panas dari luar
  • Mengurangi tingkat kebisingan suara
  • Mengurangi polusi udara
  • Menangkap partikel-partikel kotoran
  • Meningkatkan suplai oksigen
  • Mempercantik wajah kota

Jadi, vertical garden adalah solusi membuat hutan kota tanpa menambah lahan tanah. Untuk lebih jelas, bisa membaca buku Vertical Garden from nature to city karya Patrick Blanc. Indoneta Plan to Plant. Hubungi : 0811-900-858.

18. March 2015 by Administrator | Categories: Artikel |